Tuesday, June 6, 2017

PANDUAN SOLAT SUNAT TARAWIH DAN SOLAT SUNAT WITIR

Oleh Ustadz Ilyas Amiruddin Habu, Lc Hafidzahullah


*Shalat Tarawih*

Diantara ibadah yang dianjurkan oleh Allah pada bulan Ramadhan adalah shalat tarawih. Shalat tarawih adalah bagian dari shalat nafilah. Mengerjakannya disunnahkan secara berjama'ah pada bulan Ramadhan, dan hukumnya sunnah muakkadah. Disebut tarawih, karena setiap selesai dari empat raka'at para jama'ah duduk untuk istirahat.
Tarawih adalah bentuk jama' dari tarwihah. Menurut bahasa berarti جلسة (duduk). Kemudian duduk pada bulan Ramadhan setelah selesai dari empat raka'at disebut tarwihah, karena dengan duduk itu, orang-orang bisa istirahat dari lamanya melaksanakan qiyam Ramadhan.
Bahkan para salaf bertumpu pada tongkat, karena terlalu lamanya berdiri. Dari situ, kemudian setiap empat raka'at disebut tarwihah, dan kesemuanya disebut tarawih.


Keutamaan Shalat Tarawih

Banyak hadist-hadist Rasulullah shallahullahu 'alaihi wasallam menjelaskan tentang keutamaan shalat tarawih pada bulan Ramadhan,diantara:
1. Hadist Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallahullahu 'alaihi wasallam bersabda:
من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه.
"Barang siapa melakukan qiyamul lail pada bulan Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka diampuni segala dosa-dosanya yang telah lalu". ( HR: Bukhari, no 37, Muslim, no 1815).
Maksud qiyamul lail secara khusus menurut Imam An-Nawawi adalah shalat tarawih. Hadist ini menjelaskan, bahwa shalat tarawih itu bisa mendatangkan magfirah (ampunan) dan bisa menggugurkan dosa, tetapi dengan syarat bermotifkan iman, membenarkan pahala-pahala yang dijanjikan oleh Allah, dan mencari pahala tersebut dari Allah, bukan karena riya' atau sekedar adat kebiasaan.
2. Hadist Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallahullahu 'alaihi wasallam bersabda:
من قام مع الإمام حتى ينصرف كتب الله له قيام ليلة.
" Barang siapa qiyamul lail bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis baginya pahala qiyam satu malam". (HR: At-Tirmidzi, no 806 , An-Nasai, no 1605, Ibnu Majah, no 1327).
Hadist ini sekaligus juga memberikan anjuran agar melaksanakan shalat tarawih secara berjama'ah dan mengikuti imam hingga selesai.
Bilangan Shalat Tarawih dan Witir
Para ulama salaf berselisih pendapat mengenai bilangan shalat tarawih dan witir, hingga beberapa pendapat, diantaranya:
1. Sebelas raka'at (8 + 3 witir), riwayat Imam Malik dan Said bin Manshur.
2. Tiga belas raka'at (2 raka'at ringan + 8 + 3 witir), riwayat Ibnu Nashr, dan Ibnu Ishaq, atau (8 + 3 + 2), atau (8 + 5) menurut riwayat Imam Muslim.
3. Dua puluh satu raka'at (20 + 1 witir), riwayat Abdurrazaq.
4. Dua puluh tiga raka'at (20 + 3 witir), riwayat, Imam Malik, Ibnu Nashr, dan al-Baihaqi. Demikian ini adalah madzhab Abu Hanifah, Syafi'i, Ats-tsauri, Ahmad, Abu Daud, dan Ibnul Mubarak.
5. Tiga puluh sembilan raka'at (36 + 3 witir), atau (28 + 1), madzhab Maliki.
6. Empat puluh satu raka'at (38 + 3 witir), riwayat Ibnu Nashr dari persaksian Shaleh Maula At-Tau'amah tentang shalatnya penduduk Madinah, atau ( 36 + 5 witir) seperti riwayat Imam Ibnu Qudamah dalam Almugni (2/167).
7. Empat puluh sembilan raka'at (40 + 9 witir), empat puluh tanpa witir adalah riwayat dari Al-Aswad bin Yazid.
8. Tiga puluh raka'at tanpa witir ( di Bashrah, wilayah Irak).
9. Dua puluh empat raka'at tanpa witir, riwayat Said bin Jubair.
Berapa raka'at tarawih Rasulullah?
Rasulullah shallahullahu 'alaihi wasallam telah melakukan dan memimpin shalat tarawih terdiri dari sebelas raka'at (8 + 3 witir). Dalilnya sebagai berikut:
Hadist 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ketika ditanya oleh Abu Salamah bin Abdurrahman tentang qiyamul lail Rasulullah shallahullahu 'alaihi wasallam pada bualn Ramadhan, beliau menjawab:
ما كان يزيد في رمضان ولا في غيرها على إحدى عشرة ركعة.
"Sesungguhnya beliau tidak pernah menambah pada bulan Ramadhan, atau pada bulan lainnya lebih dari sebelas raka'at". ( HR: Bukhari, no 2013, Muslim, no 1757).
Imam Ibnu Hajar berkata: " Jelas sekali, bahwa hadist ini menunjukan shalatnya Rasulullah adalah sama semua di sepanjang tahun".
Berapa raka'at tarawih sahabat dan tabi'in pada masa Umar bin Khathab?
Ada berapa riwayat yang shohih tentang bilangan raka'at shalat tarawih para sahabat pada zaman Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu, diantaranya:
1. Sebelas raka'at (8 + 3 witir).
Umar memerintahkan kepada Ubay bin Ka'ab dn Tamim Ad-Dari untuk shalat 11 raka'at. Riwayat ini bersumber dari Imam Malik dari Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid.

Imam As-Suyuti dan Imam As-Subki menilai, bahwa hadist sangat shohih (في غاية الصحة). Syaikh Al-Albani juga menilai, bahwa hadist ini shohih.
2. Tiga belas raka'at.
Semua perawi dari Muhammad bin Yusuf mengatakan 11 raka'at, kecuali Muhammad bin Ishaq, ia berkata 13 raka'at, akan tetapi hadist ini sesuai dengan hadist 'Aisyah yang mengatakan 11 raka'at.

Hal ini bisa dipahami, bahwa termasuk dalam bilangan itu ialah 2 raka'at sebelum fajar,  atau 2 raka'at pemula yang ringan, atau 8 raka'at ditambah 5 raka'at witir.
3. Dua puluh raka'at (ditambah 1 atau 3 raka'at witir).
Abdurrazaq meriwayatkan dari Muhammad bin Yusuf dengan lafadz "21 raka'at" ( sanad shohih).
Al-Baihaqi dalam kitab "As-Sunan" dan Al-Firyabi dalam kitab "Ash-Shiyam" meriwayatkan dari jalur Yazid bin Khushoifah dari Saib bin Yazid, bahwa mereka pada zaman Umar bin Khathab di bulan Ramadhan shalat tarawih 20 raka'at.
Riwayat ini dishohihkan oleh Imam An-Nawawi, Az-Zaila'i, Al-Aini, Ibnu al-Iraqi, As-Subki, As-Suyuti, Ibnu Bazz, dan lain-lain.
Sementara Syaikh Al-Albani menganggap, bahwa dua riwayat ini bertentangan dengan riwayat sebelumnya, tidak bisa dijama' (digabungkan). Maka beliau memakai metode tarjih (memilih riwayat yang shohih dan meninggalkan riwayat yang lain).

Beliau mengatakan, bahwa Muhammad bin Yusuf perawi sangat terpercaya (ثقة ثبت) telah meriwayatkan dari Saib bin Yazid 11 raka'at. Sedangkan Ibnu Khushoifah yang hanya pada peringkat terpercaya (ثقة) meriwayatkan 21 raka'at. Sehingga hadist ini menurut beliau adalah asing, menyalahi hadist yang lebih shohih (شاذ).
Perlu diketahui, selain Ibnu Khushoifah tadi, ada perawi lain, yaitu Al-Harits bin Abdurrahman bin Abu Dzubab yang meriwayatkan dari Saib bin Yazid, bahwa shalat tarawih  pada masa Umar 23 raka'at. 
Selanjutnya 23 raka'at diriwayatkan juga dari Yazid bin Ruman secara mursal (terputus sanadnya sampai kepada kepada tabi'in saja), karena ia tidak  menjumpai zaman Umar bin Khathab.

Yazid bin Ruman adalah maula (mantan budak) sahabat Zubair bin Al-Awwam (w 36 H), ia seorang qurra' Madinah yang sangat terpercaya (ثقة ثبت) ( w 120 atau 130 H). Ia memberi pernyataan, bahwa:
"Masyarakat Madinah pada zaman Umar bin Khathab telah melakukan qiyam lail pada bulan Ramadhan dengan bilangan 23 raka'at".
Bagaimana jalan keluarnya?
Para ulama melakukan pendekatan dengan menggabungkan riwayat-riwayat tersebut, bukan dengan metode tarjih, sebagaimana yang dipilih oleh Syaikh Al-Albani. Dasar pertimbangan para ulama sebagai berikut:
1. Riwayat 20, (21,23) raka'at adalah shohih.
2. Riwayat 8 (11, 13) raka'at adalah shohih.
3. Fakta sejarah menurut penuturan para tabi'in dan ulama salaf.
4. Menggabungkan riwayat-riwayat tersebut adalah mungkin, maka tidak perlu pakai tarjih, yang konsekuensinya adalah menggugurkan salah satu riwayat yang shohih.
Beberapa kesaksian pelaku sejarah:
1. Imam Atho' bin Abi Rabah, beliau mengatakan:
" Saya telah mendapati masyarakat Mekkah pada malam Ramadhan shalat 20 raka'at, dan 3 raka'at witir".
2. Imam Nafi' Al-Qurasyi berkata:
" Saya mendapati masyarakat Madinah, mereka shalat pada bulan Ramadhan 36 raka'at dan witir 3 raka'at".
3. Imam Malik bin Anas berkata:
" Apa yang siceritakan Nafi' itulah yang tetap dilakukan penduduk Madinah, yaitu apa yang dulu ada pada zaman Utsman bin Affan".
4.Imam Syafi'i berkata:
" Saya menjumpai penduduk Mekkah, mereka shalat tarawih 23 raka'at, dan tidak ada masalah sedikit pun tentang hal itu".
Beberapa pemahaman ulama dalam menggabungkan rwayat-riwayat di atas.
1. Imam Syafi'i, setelah meriwayatkan shalat di Mekkah 23 raka'at dan di Madinah 39 raka'at, beliau berkomentar:
"Seandainya mereka memanjangkan bacaan dan memendekkan bilangan sujudnya, maka itu bagus. Dan seandainya mereka memperbanyak sujud dan meringankan bacaan, maka itu juga bagus, tetapi yang pertama lebih aku sukai".
2. Imam Ibnu Hibban berkata: 


" Sesungguhnya tarawih itu pada mulanya adalah 11 rakaat dengan bacaan yang sangat panjang hingga memberatkan mereka. Kemudian meringankan bacaan dan menambah bilangan raka'at menjadi 23 raka'at dengan bacaan sedang. Setelah itu mereka meringankan bacaan dan menjadikan tarawih dalam 36 raka'at tanpa witir".

3.Al-Kamal bin Humam berkata:
" Dalil-dalil yang ada menunjukan, bahwa dari 20 raka'at itu, yang sunnah adalah seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi, sedangkan sisanya adalah mustahab".
4. Ibnu Taimiyah berkata:
" Ia boleh shalat tarawih 20 raka'at sebagaimana masyhur dalam madzhab Syafi'i dan Ahmad. Boleh shalat 36 raka'at sebagaimana yang ada dalam madzhab Malik. Boleh shalat 11 raka'at dan 13 raka'at, semuanya baik. Jadi banyaknya raka'at dan sedikitnya tergantung lamanya bacaan dan pendeknya".
Kesimpulan:
Berdasarkan paparan di atas,  saya bisa mengambil kesimpulan, antara lain:
1. Shalat tarawih merupakan bagian qiyam Ramadhan, yang dilakukan setelah shalat isya' hingga sebelum fajar, dengan dua raka'at salam dua raka'at salam.
Shalat tarawih memeliki keutamaan yang sangat besar. Oleh karena itu, Rasulullah shallahullahu 'alaihi wassalam menganjurkannya- dan para sahabat pun menjadikannya- sebagai syi'ar Ramadhan.

2. Shalat tarawih yang lebih utama sesuai dengan sunnah Nabi, yaitu bilangannya 11 raka'at. Inilah yang lebih baik, seperti ucapan Imam Malik:
" Yang saya pilih untuk diri saya dalam qiyam Ramadhan ialah shalat yang diperintahkan oleh Umar, yaitu 11 raka'at, yaitu cara shalat Nabi".
3. Perbedaan tersebut bersifat variasi, lebih dari 11 raka'at boleh, dan 23 raka'at lebih banyak diikuti oleh jumhur ulama, karena ada dasarnya dari para sahabat pada zaman Khulafur Rasyidin, lebih ringan berdirinya dibanding 11 raka'at.
4. Yang lebih penting lagi adalah prakteknya harus khusyu' dan tuma'ninah.
Bersambung...
Dikutip dari buku "Hadist-Hadist Seputar Ramadhan" karangan penulis. Kemudian tambahan dari kitab "Shalat Tarawih Nabi & Shalafussholih" karangan: Abu Hamzah As-Sanusi.
Kota Nabi, Jum'at 30 Sya'ban 1438 H

No comments:

Post a Comment